Langit masih berselimut awan mendung yang menggantung. Rintikan gerimis lembut masih jatuh menetes di jilbab unguku. Angin yang menghembus udara beku menusuk hingga ke tulang. Zambrud piramid pun berdiri anggun dihadapanku, nampak segar dengan beberapa pohon yang menyisakan butiran-butiran air hujan pada daun dan batangnya. Beberapa benda cokelat dari biasan warna genting rumah terletak berjauhan. Anak-anak berlari dilapangan yang rumputnya telah gundul dengan bola di kakinya. Merpati-merpati putih, hitam dan cokelat itu terbang, saling berkejar-kejaran, sesekali hinggap di kabel listrik, sesekali hinggap di atap rumah, dan sesekali turun di rerumputan taman rumah. Semua kembali keluar setelah hujan deras pergi, setelah petir yang menjerit-jerit telah berlalu. Hujan, aku tak pernah membencimu, meski aku marah setiap kali kau membawa petir bersamamu Bukankah kau tahu, betapa kawanmu itu selalu membuatku takut? Meski dia gagah, dan kilatan cahayanya indah, tapi aku tak pernah me...