Malam telah sempurna memeluk kota itu saat hujan mulai mereda setelah ia turun menggemparkan dengan ribuan kubik airnya yang tumpah ruah. Udara dingin mulai menusuk ke sumsum setiap orang. Baginya, dingin pun turut menyusup ke palung hatinya. Gadis itu terduduk di pojok ruang tamu. Tangannya menekan dada kirinya, ada perih yang sulit dieja olehnya. Sesekali matanya melirik ponsel, masih tak ada sms dari orang yang mengajaknya pergi malam itu. Ia merapatkan jaketnya saat udara beku mulai menghembus. Sesekali ia menghembus nafasnya kasar. Matanya kembali melirik ke layar ponselnya, masih kosong. Hanya ada gambar dirinya yang telah ia tetapkan sebagai wallpaper . Ia memandangi jam digital di ponselnya, hampir menunjuk ke arah 19.00 Jadi gk? Udah nyampe mana? *** “Untuk kesekian kalinya...” Gadis itu mengirimkan pesan padanya. “Memang kenapa?” balas seseorang. “Tidak apa-apa. Memang harus begini.” Jawab gadis itu. “Tapi tak apa-apa, aku tak seperti yang kita prediksi kemari...