Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Hikmah

Terjebak Persepsi

Bismillah... Hikmah dari biografi Jean Paul Sartre yang tertuang dalam novelnya “Les Mots” atau “Kata-kata” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sartre adalah salah satu penulis Perancis yang mengenalkan aliran ekstensialisme. Ekstensialisme adalah sebuah aliran yang mengutamakan eksistensi dan kebebasan manusia. Ada satu hal yang menggelitik dalam perjalanan hidupnya. Awalnya beliau adalah seorang yang mempunyai kesadaran diperhatikan oleh Tuhannya. Jean Paul kecil saat itu sedang bermain di rumahnya, kemudian tanpa disengaja dia membakar karpet. Pada saat itu tak ada seorang pun yang melihat perbuatannya, baik ibunya   maupun ayah tirinya. Akan tetapi dia merasa ketakutan karena dia merasa ada mata Tuhan yang selalu mengintai dan memperhatikannya. Jean Paul berlari kesana kemari, akan tetapi dia selalu merasa diawasi. Sekalipun ketika Jean Paul berlari ke kamar mandi, “mata” itu terus melihat dan menghakimi perbuatannya itu. Hingga Jean Paul merasa frus...

Perjalanan Menuju Kota Metropolitan

Pagi itu selesai kuliah tiba-tiba saya mendapat kabar dari koordinator yang memerintahkan saya meluncur ke Jakarta untuk mengurus kelengkapan administrasi perlombaan yang kami ikuti di pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (so keren banget deh... :D) enam bulan yang lalu. Saya sebagai perwakilan dari bahasa Perancis dan seorang temanku yang manis dari jurusan Bahasa Jepang, (terpaksa karena si koordinator sudah berada di Bangka selepas ujian Sidang, dan akan kembali ke Bandung minggu depan untuk wisuda). Setelah selesai kuliah itulah saya dan beberapa teman yang terlibat dalam pembuatan buku itu beramai-ramai melengkapi administrasi yang jadi persyaratan panitia lomba. Jam 1 tengah hari barulah selesai tuh, kami bertiga, saya, kak Iik dan Neng Melia (perwakilan satu-satunya dari Bahasa Jepang yang ikut) segera meluncur ke Stasiun Hall untuk mengejar kereta yang berangkat jam 2 siang nanti. Sebenarnya ada perasaan kuatir juga menjejaki Ibukota, secara dari jaman dahulu ka...

Cacian? Ejekan? Siapa Takut !!!

Bismillah… Sahabat sudah berapa kalikah kita mendapat teguran secara halus maupun terang-terangan yang intinya “Kok akhlak gak sesuai dengan penampilan ya?”. Atau “Kok kelakuannya gak menggambarkan kostumnya sih.” dan macam-macam lainnya. Terus karena kita tidak terima dengan kritik itu muncullah pembelaan, “haduh please deh, don’t judge the book by the cover.” Atau “Lha kan namanya juga manusia, wajar kan buat salah. Namanya juga lagi berproses.” Terus setelah ngomong gitu nggak ada follow up dari kita, nggak ada usaha untuk memperbaikinya. Masih hanyut dan nyaman dengan kondisi seperti itu. Lantas waktu ada orang yang mengucapkan hal yang serupa maka muncul lagi pembelaan yang sama. Lho ?? terus dimana prosesnya dong  kalo gitu-gitu terus ?

Cerita dari Negeri Dongeng

Di Negeri Antah Berantah, rakyatnya  yang berjenis kelamin berbeda hidup terpisah oleh aliran sungai dimana daratan putra tinggal di sebelah kiri aliran sungai sedangkan daratan putri tinggal di daratan sebelah kanan. Keduanya tak bisa bersama, apabila ingin bersama maka mereka harus mempunyai kapal berSNI atau berlabel halal “MUI” (lho????). Sudah merupakan suatu ketentuan bahwa rakyat negeri itu baik putra maupun putri tidak boleh mendekati aliran sungai itu. Sebagian orang sangat patuh, sebagian lagi meski mereka hati-hati tapi tidak terlalu mentakuti larangan itu. Sungai itu bukanlah sungai berpenyakit. Airnya sejuk, melegakan jika diminum, dapat menyebabkan ketagihan, dan terdapat taman bunga cantik disepanjang tepian sungai, tapi beberapa mil dari tempat itu terdapat aliran yang sangat deras, hingga siapapun yang melewatinya tanpa kapal yang kuat akan binasa, tetapi mereka yang melewatinya dengan kapal akan nyaman dan selamat diperjalanan. Itulah alasan kenap...

Bidadari Berwajah Pucat

“Akh… hari minggu ada agenda nggak?” Tanya Faruq dari seberang telepon. “Hm…” aku berpikir sejenak. “Sepertinya kosong. Ada apa?” aku balik bertanya. “Bisa ikut dengan saya dan Bani? Kita diundang syukuran. Salah satu sahabat kita hendak di khitbah lho. Hmm… yang bersangkutan sih tidak mengundang langsung, tapi lewat ukhti Dewi.” Jelas Faruq panjang lebar. “Wah… Alhamdulillah, akhirnya diantara kita satu persatu menemukan pelabuhan cintanya.” Aku menarik nafas lega, sahabat-sahabatku telah hendak bertemu jodohnya. Aku? Kapan kiranya aku berani mengungkapkan perasaan ini pada sang pujaan hati? Seorang akhwat yang diam-diam aku kagumi sejak pertamakali bertemu di sebuah organisasi, yang saat itu kami dalam satu divisi dan beliau adalah bawahan saya. Gadis sederhana berwajah pucat tapi tidak nampak letih, justru terlihat sangat energik. Tak pernah banyak bicara ketika koodinasi. Ah… kapan keberanian itu datang? Apakah karna aku belum begitu siap secara ilmu dan mental untuk...

Analisis Hikmah dan Kemurahan Allah SWT pada Hari Kamis 26 Mei 2011

(Contoh Proposal Skripsi Universitas Kehidupan) A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Siapa yang tak kenal saya, seorang yang ambisius, idealis dan mudah stress apabila kenyataan tak sesuai dengan yang diharapkan. Terlebih apabila apa yang terjadi adalah atas kesalahan sendiri. Rasa menyesal berkelanjutan dan tak ada habisnya. Memaafkan diri sendiri bukanlah perkara yang mudah. 2. Rumusan Masalah Dari penjelasan diatas, agar pembahasan diatas tidak melebar maka dikerucutkan kedalam dua pertanyaan dibawah ini. a. Apa saja hikmah yang di dapatkan dari sebuah kekecewaan? b. Bagaimana cara meraih keridhaan atas kehendakNya? 3. Tujuan Penelitian Penelitian kecil ini bertujuan untuk a. Mendeskripsikan Hikmah hari ini b. Mencari ketenangan dengan ridha atas kehendakNya 4. Metode Penelitian Penelitian ini tidak menggunakan pendekatan kualitatif ataupun kua...