Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Rindu tanpa Tafsir

Rindu datang mengusik hingga menusuk Menantang fajar, senja pun tunduk tertakluk Menghimpun remah-remah asa yang masih tersisa Memuai harap dari sepotong rasa yang berkuasa Kau, menjejak di ruang biru Aku, berada di garis hijau Ada bentangan masa dan ruang menyekat Melebur menjadi ragu bernama kemustahilan Rindu hadir tanpa tafsir Rasa datang menggeliat kenangan Menuding kata mengamini hati Bersemayam di sudut jiwa Katakanlah... Dengan jalan mana yang akan menyampaikanku padamu Pun sebaliknya... Adakah sepotong kilau cahaya untuk kita? Secercah pijar yang akan mempertemukan kita pada akhirnya. Katakanlah, wahai rindu tanpa tafsir. Kau datang mengisi setiap ruang, setiap sisi hatiku Menebar aroma harum yang mempesona Bagai pisau dengan dua mata. Kau merobek dinding hati merangsek keluar. Wahai rindu tanpa tafsir, kemudian engkau pergi tanpa jejak Seolah harapan telah mati membusuk Wahai rindu tanpa tafsir, bisakah ku te...

Sepotong Takdir

Waktu seolah membentang jarak Segala tanya berkecamuk di benak Akankah segala harap mungkin terwujud? Sedang gemericik rerindu gigil menusuk Cinta, bawalah sayap-sayapmu kemari Terbanglah dalam pelukan kasihNya Hanyutlah dalam mahabbah padaNya Tenangkan jiwa atas kehendakNya                                                                                                                     Ah... nyata...

Serenade Senja

Benar... Dalam senja, tak hanya jingga yang menawan tapi berhias violet yang mempesona Aku khawatir mengacau tatanan galaksi yang telah terbentuk Di sisi lain, bulan pun datang menertawakan keterguguanku Aku melukis, lantas terburu aku merobeknya. Masih terpasung dalam tanya Lantas kapan waktu kan menjawab? Namun, aku masihlah diriku yang kini, senja pun tak pernah berubah Jingga pun menari disana... Bersama violet menghantar malam Menyerukan derit kesunyian. Bersabarlah, fajar kan datang Mentari kan terbit pada waktunya Lagi, Jingga dan violet pun bersenandung dalam keromantisan pagi Menuju siang yang menggelora Dan aku pun disini, tanpa memutus siklus Menunggu untuk sepotong jawaban dibalik tirai... Fathia Mohaddisa Sudut Malam, 09 Mei 2012

Aku Fakir akan CintaMu

Rabb, aku fakir akan cintaMu Cinta yang mendekapku dalam kesendirian Cinta yang menjagaku dalam keramaian Cinta yang tak pernah reda meski aku berpaling Rabb, cintaMu sungguh sempurna... Cinta yang mengangkat beban yang terpikul diatas bahu yang lemah ini Cinta yang menyatukan serpihan hati yang hancur berkeping Cinta yang mengobati luka pada jiwa yang letih Rabb, cintaMu adalah kekuatanku Cinta yang slalu membuatku menegakkan wajah yang tertekuk Cinta yang memudahkan hati untuk memaafkan Cinta yang mampu meringankan ukiran senyum di bibir Dalam desahan nafasku, Kau kirim berjuta cinta yang tak terhingga Seperti deretan lampion di setiap ujung jalan yang menerangi langkahku Menghayutkan nestapa pada sungai waktu yang membawa pada muara masa lalu Rabb, aku butuh cintaMu, selalu, dan selamanya... Cinta yang bisa membeli semua cinta di jagat raya ini Juga atas cinta para penduduk langit Rabb, aku butuh cintamu, Cinta yang bisa membawaku terbang dan bangkit dalam k...

Jejak Di Atas Pasir

Langkah itu meninggalkan jejak-jejaknya pada pasir putih Pada desiran angin, nyanyian itu bersenandung Pada langit sore, lembayung jingga melukiskan kisah hati Dan pada cangkang kerang yang beserak, aku bertutur Hingga tebing itu menggemakan bisikan jiwa yang membahana Menegakan karang untuk tetap kokoh menghadapi hantaman ombak Biar ku susuri diri, apa maunya dia berkata Lepas hati memahami sekeping hasrat yang bertanya

Salam Rindu untuk Sang Aktivis

Tubuh itu menggelepar dijalanan, berlumurkan darah Kepalanya terluka Tubuhnya penuh luka memar Tapi hatinyalah yang paling tersakiti Hati keluarganya, dan hati orang-orang yang mencintainya Meski harus meregang nyawa Dia puas... Merasa sangat puas dengan apa yang telah dilakukannya Pejuangannya, bukan perjuangan biasa Dia persembahkan untuk ummat Sang aktivis luar biasa Pahlawanku... Yang bukan hanya pandai beretorika Yang tidak pernah menciut nyalinya

Aku Takut...

Ku takut aku menjadi Ilah Baru bagimu, Sejak getaran itu mulai muncul Ku takut... Otakmu berjihad memikirkanku dan hatimu Istiqamah  merasakan kehadiranku Sekalipun... Sesungguhnya kita tak pernah saling bertemu Untuk saling bertukar tegur Bahkan sekedar saling pandang pun Bagaimana jika... ternyata DIA cemburu? Masihkah hadir pesan singkatku, yang terkirim dengan terbumbui aroma nafsu? Jika ya, jangan sekali-sekali kau menghiraukannya... *Dikutip dari buletin "Syal Ungu PPM edisi 4" karya Chairil Ismail dengan beberapa penyesuaian.

Mencinta

Cinta, apa yang ku ketahui dengan dari satu kata itu? Benarlah orang bilang, cinta tak pernah mampu dilukiskan kata-kata Sekalipun menenun jiwa dalam keindahannya Meskipun menyulam hati dengan pesonanya Bagai merpati yang mengepakan sayapnya di udara Layaknya mentari yang merona di romantisnya fajar Bahkan seperti senja yang meneduhkan Yang kutahu seperti itulah cinta yang terasa memabukkan Rindu menjadi magnet kebersamaan Menyeret langkah menuju sujud yang panjang Merayu diri bermesra dengan ayat-ayat cintaNya Lisan pun tak henti berucap asmaNya Duhai Yang Maha Mencinta Tak ada yang lebih indah selain mencintaMu Tak ada yang lebih syahdu selain menghabiskan malam denganMu Tak ada yang lebih membanggakan selain mengakui kekuatanMu Ah… Engkau telah membuatku tergila dengan cintaMu…

Khayalan Sejenak

Oleh: Fathia Mohaddisa Pagiku menjelang… Hentakan debar dalam hati mengejutkanku Serupa wajah hadir kembali dalam benakku Meski qalbu meronta untuk menolak Takut akan teguran Sang Pembolak-baliknya Saat tak mampu kebendung lagi kata-kata Pada secarik kertas ini kuungkapkan Meski ini bukan tempat semestinya Tapi tak ada media lain yang dapat kugunakan Melayang anganku akan suatu tempat Kutatap pemandangan dengan keelokannya Seorang gadis kecil berlari dengan tali-tali cantik di gaunnya Diiringi hempasan angin yang bertiup yang menyejukkan Sungguh semuanya nampak di dekatku Menyapaku di depan mata Saat tangan mengulur untuk menyambut Tersadar aku harus bersabar sejenak waktu Kebesaran dan keagungan yang hampir kurengkuh Masihlah sebentuk maya fatamorgana Mungkin semuanya akan  kudapat Atau bisa jadi fatamorgana itu menjadi keabadian Ku tersentak tatakala sebuah suara lembut mengingatkan “Dans cinq minute” atau “Lima menit la...

Cahaya lilin

Langit bermandikan cahaya bintang Bayangan yang mengaggumkanku Cahayanya diam dalam lelehan yang jelas Terluka dalam pengorbanannya Dalam reruntuhan lelehan cahayanya Kesilauan yang sangat dalam kegelapan malam Bertaburan di samudra Tentang diamnya setiap kali di kegelapan Cahaya yang sama Dalam kobarannya, mengekalkan sebuah bayangan Yang semakin memerah Kejujuran dalam malam yang pucat membatasi rasa ingin tahu Kepopuleran yang mendesah Persekongkolan yang tiada batas bahwa angin menginginkan segera berakhir Lilin-lilin biru itu yang menyinari di musim gugur Pada malam yang pucat Dan angin keras besar dan searah Dari cairan yang berwarna Cairan itu yang membentuk pulau dari lilin yang mengisnpirasi Dari keagungan matahari Yang bersinar aneh dalam pandanganmu pada pemandangan cahaya yang besar.. Oleh: Bernard de l'Ocean dengan judul asli "Soleils de Cire" Diterjemahkan oleh: Fathia Mohaddisa

Hati

Hati masihkah engkau bertahta ditempat tertinggi diri ini? Saat akal menjadi penasehatmu dan nafsu sebagai hambamu Hati, Masihkah engkau seputih kapas yang bersih ? Ataukah telah berubah sehitam lumpur ? Hati, masihkah kau selembut salju dalam setiap bulirnya? Ataukah lebih keras daripada sepotong besi? Masihkah kau mampu menyapa saat aku berbelok dari jalanNya? Masihkah kau akan berteriak saat kaki ini melangkah menuju pengkhianatan padaNya? Masihkah kau mampu berdering membangunkan dari kelalaian? Masihkah kau berbisik menggiringku pada kebaikan? Hati saat kau berbisik aku meredammu Saat kau berbicara padaku, aku pun mengabaikanmu Bahkan saat kau berteriak memperingatkan, aku malah membungkammu Saat kau menyerah, aku semakin terlena Hati, benarkah kau telah mati dalam dada ini? Saat Dia menghidupkanmu kembali dengan cahayaNya Saat Dia menyembuhkanmu dengan rahmatNya Dan saat Dia menguatkanmu dengan kasih sayangNya Sesungguhnya itu adalah nikmat yang l...

Yang Membuatku Kagum Padamu

Yang membuatku kagum padamu adalah... saat kau masih tetap berjuang meski fisikmu menuntutmu beristirahat lebih Yang membuatku kagum padamu adalah... Dalam kerasmu, kau masih menyempatkan membangun kembali kehangatan diantara kita seperti dulu... disaat jurang kedinginan mulai memisahkan kita Yang membuatku kagum padamu adalah... kau begitu setia menjaga setiap amanah menutup setiap keburukan orang-orang terdekatmu Yang membuatku kagum padamu adalah... kau masih mau peduli padaku, bersusah untukku disaat mereka setengah mengacuhkanku meski kadang tingkah dan ucap sering menggores luka Yang membuatku kagum padamu adalah... dalam keterbatasanmu, kau masih menyimpan cinta menyisihkan secuil yang kau miliki untukku

Cara Dia Mendukungmu

Mungkin yang kau rasakan, hanyalah kedinginan, disaat semua orang berkata-kata mendukung dan mendo’akanmu. karna kau tak perlu tahu, bahwa ditempat lain, di sudut kota yang lain ada seorang wanita yang berharap dengan penuh pengharapan, membasahi mukenanya dengan tetesan air matanya dalam setiap sujudnya. menanti untuk mendengar kabar darimu. Ada kecemasan dalam setiap gerak matanya. Tak mampu terpejam saat gelisah, hanya karena takut butiran bening akan meluncur disudut matanya. Ada sayatan luka dihatinya saat dia tahu kau mendapat hambatan, Ada perih yang mendalam saat kau hampir menyerah. Penuh tanya yang terlintas dibenaknya, tapi dia hanya menyimpan rapat segala tanya itu di hatinya. Itulah cara dia mendukung perjuanganmu. Itulah cara dia mencintaimu. Karna kamu tak perlu tahu, karna dia tak ingin kau merasakan keresahannya, karna dia hanya ingin kau tetap fokus dalam perjuanganmu… Karna dia hanya ingin melihatmu meraih kesuksesan itu, Meski dari jauh… Berharap me...

Saling Melengkapi, Saling Mendukung, Saling Mengiringi

Fajar dan Senja itu sama hanya waktu yang membedakan kita menyaksikannya Mentari dan bulan memang satu, tapi kita melihatnya dari belahan bumi yang berbeda Semua tercipta berpasangan… berlawanan… tapi tidak untuk saling melawan tidak untuk saling menantang dan tidak untuk saling membanggakan Mereka tercipta untuk saling melengkapi mereka tercipta untuk saling mendampingi Fajar dan Senja memang tak beriringan, tetapi ada mentari yang menjadi perantara Mentari dan bulan tak hadir bersama tapi ada bumi diantara keduanya hingga kita masih dapat melihat bumiNya Siang dan malam memang tak sama tapi ada waktu yang menjadi penyambung Hujan dan mentari mungkin hadir bersama namun ada pelangi yang mengiringi Tak ada yang merasa unggul tak ada yang merasa lebih baik semua saling melengkapi semua saling mendukung

Utuh Tak Tergoyahkan

Seperti ada duri yang menusuk kulit Meski tak terasa orang sekeliling Sungguh bukan itu maksudku Bukan… bukanlah itu yang kutuju Meski luka, meski sakit saat menyaksikan itu Walau ia tak tahu bahwa aku merasakan, aku melihat deru Tak pernah terpikir bagiku agar ia pun harus merasakan juga Agar ia turut mengecap pahit yang kurasa Tak rela… tak rela harus melihat ia terluka meski mungkin apa yang kulakukan telah melukainya Maaf, sesalku takkan lagi berguna tapi aku tak pernah tahu bahwa yang terjadi karna keadaan Maaf… Benarkah ini pengingkaran pada janji yang telah terucap? ataukah ini adalah sebuah ujian dalam perjalanan? Ataukah sudah tak ada yang bisa dipertahankan? Demi jiwaku yang ada dalam genggamanNya Sungguh, aku masih menggenggam komitmen ini Meski penjagaan itu luar biasa sulit Sesulit menggenggam bara api tapi ini amanah amanah yang mesti kujalani dengan ikhlas kewajibanku memberikan yang terbaik dalam menjalaninya karna kelak, Dia akan meminta pertangg...