Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Serial Hikmah

Bahagia pun...

Ku lihat Hilya wajahnya tampak kuyu, duduk di samping jendela. "Kenapa dek? Kusut sekali..." "Semalem tidurku kurang nyenyak." Jawabnya sambil menguap. "Lho kenapa? bukannya proposal skripsimu sudah di acc?" "Benar mbak, ternyata terlalu bahagia juga bisa bikin tidur nggak nyenyak..." Glekk...

Percaya deh...

"Karena ini sudah darurat, Mbak pikir nggak apa-apa dek menghubunginya supaya semuanya jelas." Ujar Mbak Hanna menggebu-gebu. "Apa iya nggak apa-apa mbak?" tanyaku ragu. "Nggak usahlah mbak, malu-maluin mbak." "Nggak apa-apa dek. Percaya deh sama Mbak..." Ujar beliau lagi mantap diraih handphonenya yang beliau letakkan di atas rak bukunya. "Nggak usahlah mbak." bujukku. Ku tarik lengan gamis cokelatnya. Kali ini Mbak Hanna tak menggubrisnya, segera dibuka daftar nama di phonebook nya. Setelah beliau menemukan satu nama tak ragunya ditekan tombol "ok". Aku pasrah. Sedetik dua detik mbak Hanna menunggu panggilan masuk. Tak berapa lama sebuah suara terdengar, "Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silakan lakukan pengisian ulang." Glekk...

Gelap, Sunyi, dan Seberkas Cahaya

“ ...dan yang terpenting adalah hindari kebiasaan 3M kita, mengeluh, menyalahkan orang lain dan mencari pembenaran.” Potongan paragraf dari artikel sebuah situs Islami yang sedang aku baca. Aku tengah asyik berselancar di opera mini dengan si orchid, hape mungilku ketika kakak sulungku memanggilku. “Qis...” panggil bang Syamil. Aku menoleh ke arahnya yang kini sudah mahir menyetir jarak jauh, PP Bandung-Cirebon tanpa menginap di tempat tujuan. Bang Syamil melirik ke arahku sekilas lewat kaca spion kemudian ia melirik Mbak Hanna -yang duduk di jok depan di sampingnya tengah tertidur pulas- untuk memastikan istrinya yang baru ia nikahi sebulan itu benar-benar nyaman di tempatnya. “Ya Bang?” tanyaku. Ku letakkan handphone yang ku gunakan untuk internetan selama perjalanan dari Cirebon hingga kini mobil kami membelah jalanan Sumedang. “Adikmu kenapa tuh? Lagi ada masalah? sedari tadi ngelamun terus liatin jalanan.” Bang Syamil terkekeh, mata elangnya kembali tertumbu di spion ten...

Kedewasaan

Pagi memendar dingin yang menusuk. Ku rapatkan jaket merah hitamku, duduk di antara puluhan santri yang telah berkumpul menghadap seorang guru besar yang terduduk di depan kelas. Ku lirik jam logam yang melingkar di lengan kiriku menunjukkan pukul 5. 40. Waktu yang paling nikmat untuk tidur kembali selepas shalat shubuh dengan udara yang menghembus, merayu. "Ada yang mau ditanyakan?" ucap sang guruku tegas. Aku masih tertunduk memainkan pulpen dengan ujung jariku. Berpikir, mengaduk-aduk isi otakku untuk mencari perkara yang bisa aku ungkap. "Pak ustadz, apa yang membuat orang bisa menjadi berpikir dewasa dan bijak?" tanya seorang ikhwan di ujung sudut kiri. Pertanyaan menyentakku. Aku mengangkat kepalaku. Sekilas ku lirik ikhwan itu lalu ku alihkan pandanganku pada guruku.

Dandelion

Mentari semakin merunduk di ufuk barat, sisa cahayanya masih menelusup di Jendela Masjid. Shalat Ashar berjamaah yang diimami Ust. Dadan hampir berlalu satu jam yang lalu. Meski demikian seperti biasanya masjid ini selalu ramai oleh jamaah. Beberapa orang sedang shalat ashar, mungkin mereka masih memiliki urusan saat adzan berkumandang, beberapa orang sedang tilawah, dan tak jarang pula yang sedang melafalkan al ma’tsurat sore. Aku baru saja menyelesaikan do’a rabithah dalam al ma’tsuratku, ketika Hilya yang duduk di sampingku dengan penuh semangat tengah menyelami muraja’ah hafalan juz 30-nya di surat An Nazi’at. Aku memperhatikannya dengan seksama. Ia meniti tiap makharijul huruf dan tajwidnya dengan hati-hati. Wajahnya terlihat tenang dan bening seperti permata. Tak heran jika orangtua kami menyematkan nama itu baginya. “Fa’amma man khafa maa khooma rabbihi wannahannafsa ‘anil hawaa...” lirihnya. “Wa’ama man khafa maa khooma rabbihi wa nahannafsa ‘anil hawaa...” aku mengoreks...

Software Shalehah

"Aku ingin shalehah." Ujarnya.Aku menatapnya sejenak. Seraut wajah serius ditunjukkannya di hadapanku. Hm.. seserius apapun, ekpresi kekanak-kanakannya tak pernah luput dari wajahnya yang imut. "Langsung aja..." jawabku singkat seraya kembali kualihkan pandanganku pada monitor yang telah penuh dengan ribuan kata dari tugas akhirku. Jariku masih meloncat-loncat dari tombol satu ke tombol lainnya diatas keypads yang terbungkus plastik. "Caranya?" tanyanya polos. "Please... tolong dong, installkan software shalehah padaku." lanjutnya merajukku. Sudah ku duga. seberapa lama kau mampu bersikap serius? Meski demikian, setiap keinginan yang dia ajukan tak pernah sedikitpun ku ragukan keseriusannya walau setiap kali dia mengutarakannya dengan kekonyolannya dan tingkah kekanak-kanakannya. "Hm..." aku berpikir sejenak. Menghentikan aktivitasku mengetik tugas akhirku yang harus segera ku selesaikan. Kemudian aku kembali mengetik. Dia turut t...

Bagilah Bebanmu Denganku

Mataku masih enggan berpaling, lewat jendela kamar ku pandangi mentari yang mulai turun di ufuk barat. Lembayung senja mula merekah mengiringi kepergian mentari yang tampak lelah setelah bersinar seharian. Tapi tidak denganku, aku masih belum lelah, aku masih kuat untuk menampung bebanmu. Aku terlalu segar untuk pergi istirahat tanpa mendengar keluhmu dulu, tanpa memberimu bahu untuk membagi beban denganku. Bukankah kau pilih aku karena kau percaya padaku untuk mengatasi setiap permasalahan yang kita hadapi bersama-sama? Lantas kenapa kau masih diam membisu di sudut ruang kerjamu dengan kiloan beban yang memenuhi hati dan pikiranmu. Apakah kau tak percaya padaku? atau apakah kau tak mencintaiku lagi? Apa kau lelah mencintaiku? Matahari benar-benar telah tenggelam, seperti engkau yang tenggelam dalam duka dan bebanmu yang berkepanjangan. Adzan maghrib berkumandang bersahut-sahutan mulai dari Masjid Raya hingga mushola kecil di sudut komplek perumahan. Kau keluar dari ruang kerjamu de...