Skip to main content

Posts

Paris

Senja telah turun memeluk kota Paris, saat aku langkahkan kakiku ke arah sungai Seine. Seine hanya tinggal beberapa meter dari hadapanku. Semakin dekat aku menemukan siluet tubuhnya yang tinggi membelakangiku. Ia benamkan kedua tangannya dalam saku jaket, pandangannya terpaku melucuti keindahan sungai itu. Aku telah berdiri di belakangnya dalam hitungan detik aku menepuk bahunya dengan setengah menjijitkan kakiku. Aidan tampak terperanjat. Ia segera memutar tubuhnya. “Saila, kau membuatku terkejut.” Ia tampak gemas padaku. “Maaf sedikit terlambat.” Ujarku tanpa rasa bersalah karena telah membuatnya menunggu lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Tiga jam yang lalu, ia menelpon memintaku menemuinya di tempat ini, setelah tiga hari ini kami menginap di hotel. Ia harus bergabung dengan timnya untuk pertandingan kemarin. Sedangkan, aku harus menginap di hotel berbeda dan tidak sedikitpun kami memiliki kesempatan untuk jalan-jalan hanya sekedar menghirup keromantisan kota ini ...

[Barcelona II] Beach of Love

“Seluna, You’ve gone.” Pandangan gadis kecil itu memaku pada seekor kelinci putih yang terkapar di pinggir jalan. Bulunya tak lagi seputih kapas, noda merah kini lebih mendominasi tubuhnya oleh darah yang terus mengalir dari lehernya yang terluka. Beberapa menit yang lalu seekor kucing abu-abu mencengkram lehernya dan membawanya lari, hanya beberapa detik setelah gadis kecil itu meninggalkannya masuk rumah untuk mengambilkan seikat sayuran untuknya. Jerit nyaring kelinci itu cukup menyadarkan pemiliknya dan mengisyaratkan bahwa dirinya dalam bahaya dari seekor kucing yang sedari tadi mengendap-endap mencari waktu yang tepat untuk menerkamnya. Gadis itu segera berlari keluar rumah, dilihatnya kucing itu membawa lari tubuh kecil kelinci itu di mulutnya, persis seperti kucing itu mencengkram tikus-tikus menjijikan dengan taringnya. Gadis itu berlari mengejarnya, kerikil-kerikil berhamburan ke arah kucing itu dari tangan-tangannya yang penuh emosi. Kucing itu melepaskan dan mencampa...

Barcelona

14 Oktober Setelah semua barang-barang yang ku perlukan terkemas rapi dalam koperku. Aku kembali memeriksa kelengkapan dokumen perjalananku. Passport, visa dan semuanya telah tersimpan rapih di handbag . Ku pandangi seisi kamarku, melucuti setiap barang yang berada disana sekiranya ada barang yang bisa tertinggal. Sebuah MP4 hitam masih tergeletak di atas meja belajarku. Aku segera meraihnya dan ku masukkan ke dalam tas tangan putihku. “Saila... kau telah siap?” ku dengar suaranya memanggil dari luar kamarku. Aku mengangguk. “Ya.” Sahutku saat ku sadari ia tak bisa melihat anggukanku. Ia membuka pintu kamarku dan menunjukkan dua tiket di tangannya. “Pesawat kita berangkat pukul empat nanti. Biar aku yang menyimpan ini.” ujarnya padaku. Aku mengangguk setuju. Ia memasukkan tiket-tiket itu ke dalam dailypack nya. Dengan satu gerakan ia telah menurunkan koperku dari tempat tidurku, membawanya keluar dan mengemas dengan rapi bersama barang-barang bawaan lainnya di bagasi taksi ...

Kekosongan

Cerpen Hujan #2 (Sekuel: Biarkan Luka ini Hanyut Dalam Deras Hujan) Awan hitam menggantung di langit kotaku cukup lama, sampai akhirnya menurunkan jarum-jarum beningnya menderas. Aku berlari dan segera memburu emper toko sebagai tempatku berteduh. Aku segera menghapus tetesan air di hardcover ungu yang melapisi ratusan lembar kertas hvs. Jaket hitam yang biasa ku persiapkan sebelum hujan tak bersamaku, pagi tadi kakak perempuanku meminjamnya dan aku tak menduga jika hujan akan datang hari ini. Ku rapatkan tubuhku ke dinding toko menghindar dari tetesan air yang memburu tubuhku yang mulai basah, meski tidak kuyup. Ku peluk rapat tiga bundle kertas yang berjilid ungu itu dalam dadaku, berharap tetesan hujan tak sampai menyentuhnya. Hujan turun begitu derasnya menurunkan ribuan kubik airnya, seolah ia ingin menumpahkan semua pasukannya yang bersisa di langit. Hei, benarkah kau sedang marah padaku? " Lebet heula atuh neng? " panggil ibu pemilik toko itu. Seketika aku menoleh...

Sebait Doa Kecil

Malam belum begitu larut saat aku dan ibu duduk membisu di ruang tengah. Kebisingan datang dari televisi kami yang menyiarkan acara yang ibu sukai, sebuah sinetron yang entah akan dibawa kemana ujungnya. Namun kali ini ibu malah sibuk melipat baju-baju baru yang beliau dapatkan dari putri ketiganya. Aku menghela nafas perlahan. "Tahun ini aku masih mendapat jatah baju baru dari kakak. Malah ibu pun turut membelikan." Ujarku. Ku lempar sebuah senyum padanya. "Tahun depan giliran aku membelikan baju untuk para keponakanku." tambahku dengan tawa cekikikan kecil seperti biasanya. Aku menanti... Biasanya sebuah do'a akan meluncur untukku sesuai pernyataan yang aku ujarkan. Aku berharap ibu mendoakanku agar aku segera mendapatkan pekerjaan ditempat yang terbaik.

Bahagia pun...

Ku lihat Hilya wajahnya tampak kuyu, duduk di samping jendela. "Kenapa dek? Kusut sekali..." "Semalem tidurku kurang nyenyak." Jawabnya sambil menguap. "Lho kenapa? bukannya proposal skripsimu sudah di acc?" "Benar mbak, ternyata terlalu bahagia juga bisa bikin tidur nggak nyenyak..." Glekk...

My Little Girl

Gadis kecil itu bukan darah daging Ia, tapi darah yang mengalir dalam tubuh kami nyaris sama. Gadis kecil ini memang tidak lahir dari rahim Ia, tapi Ia menyayanginya lebih dari anak-anak yang lain. Ia memperlakukannya seperti putri ia sendiri, meski ia belum pernah tahu dan merasakan bagaimana memiliki seorang anak. Gadis itu adalah keponakan bungsu (sementara) di keluarga ia. Namanya Retanatta El Syahidan. Sejak dia berumur enam bulan, ia sudah belajar memandikannya, menyuapinya bahkan meninabobokannya. Sejak bayi atta dititipkan kedua orang tuanya yang bekerja, di rumah ibu. Saat itu ia langsung terpikir memanfaatkannya untuk latihan parenting , latihan merawat bayi. Eh, yang terjadi Atta berhasil menghipnotisku, membuatku mencintainya.