Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Nila

Lagi kau datang menghampiriku dengan wajah ditekuk. Padahal senja di luar sana begitu cantik tanpa mendung seperti yang kau suka. Ada tangis yang tersendat di kelopak matamu. Bibirmu bergetar tapi kau mencoba tetap tegar. Aku menghela nafas lelah. Ku tatap kau dengan pandangan iba. Biar ku tebak, lagi-lagi para lelaki itu menolakmu. Apa yang salah denganmu? Pikirku. Kau cantik, anggun dan begitu lembut. Hatimu demikian halus. Ah, aku tahu. Tuhan sedang melindungimu dari para lelaki itu dan menyiapkan seseorang yang terbaik untukmu. Tuhan menyiapkan seseorang yang paling pantas untuk mendampingimu karena kau istimewa, bisikku dalam hati. “Kemarilah...” ku rentangkan tanganku menyambutmu. Kau segera menghambur dan ku benamkan kau dalam tubuhku. Tangismu mulai meleleh. Tergugu kau dalam pelukkanku. “Apa yang salah denganku, Nila?” bisiknya dalam keterguguan. “Tidak ada.” Jawabku pendek. Ku hela nafas sejenak berharap kau tak mendengar tangis yang mulai mengisak di hatiku. “Percayal...

Jingga

“Kita mencintai hujan di pagi hari. Karena ianya...” kata-katamu terhenti sejenak. “Begitu syahdu.” Ucap kita bersamaan. Kau menarik tanganku menembus gerimis halus yang menyenandungkan lagu lembut yang hanya bisa disimak oleh orang-orang berhati lembut sepertimu. Kaki-kaki kita memercikan air dalam kubangan sisa hujan deras shubuh tadi. “Menikahlah, Jingga...” gumammu. “Aku tahu kau membutuhkan seseorang yang lebih untuk mendampingimu.” Ia melirik ke arahku. Kedua manik mata itu tampak berbinar penuh harap. “Kau lebih dari sekedar saudara dan sahabat bagiku.” Jawabku. “Aku tahu, setiap malam kau memimpikan seorang pangeran di sisimu. Seseorang yang tidak hanya menyerahkan bahunya dan menggenggam tanganmu saat kau menangis. Tapi ia yang juga selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.” Katamu dengan suara nyaring seperti kicauan burung pagi ini yang hilang karena gerimis masih bersenandung. “Kau sendiri?” tanyaku. Ku hentikan langkah kakiku. Kau terlambat berhenti lantas berbalik...

Rindu yang Tertafsir

Seperti pada senja-senja sebelumnya. Senja kali ini ia berdiri di bibir pantai dengan air laut yang membenam hingga mata kakinya. Rutinitas itu seakan telah diiringi tendensi kata “wajib”. Pandangannya tertumbuk pada sinar kemerahan sang mentari lelah yang balik menusuk kedua matanya. Nafasnya masih beraturan sama dengan ritme yang demikian syahdu. Kali ini lebih tenang dari biasanya. Bibirnya masih terkatup, namun kali ini tertarik simetris ke kiri dan ke kanan. Tangannya terentang bersiap memeluk hembusan angin. Seakan itulah sayapnya yang akan membawa ia melambung menyentuh awan. Perlahan kelopak matanya mulai turun. Lantas purna menutup bola mata hitamnya. Seperti ritual yang biasa ia jalani. Ia telah bersiap menyimak bisikan angin di gendang telingannya. Kali ini tak ada suara yang berbisik tentang Safir dan Zamrud. Tidak pula hanya sekedar menanyakan kabarnya yang bahkan semesta tahu benar ia bukan hanya baik-baik saja.

Bongkahan Es

“Aku tersesat!” Kalimat itu masuk di roomchat ponsel kami. Aku hanya tersenyum-senyum tanpa sedikit pun minat untuk membalas pesanmu. Ku biarkan Raka yang sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan membimbingmu menemukan kafe tempat berkumpul saat ini. Selang beberapa menit kau telah datang dengan nafas terengah-engah. Ada yang berbeda denganmu, kau tak lagi tampil dengan rok katun dan kemeja formalmu sebiasanya. Kini ku akui kau tampak anggun dengan gaun merah jambu bermotif bunga-bunga kecil. Sebuah ikat pinggang cokelat yang melingkar di perutmu membuatmu tampil lebih modis dari biasanya. Oh weekend! aku sekarang mengerti kenapa kau bisa berpakaian bebas. “Maaf.” Ucapmu dengan senyum kuda yang biasa kau pamerkan saat berbuat salah. Kau duduk di hadapanku yang persis hanya tersekat meja. Aku melirikmu sekilas dan kembali ku mainkan ponselku berpura tak acuh padamu. Aku hanya ingin menyembunyikan desiran darahku yang menderas serta kekikukan yang meringkusku seiring dengan ke...

[Cerpen] Rindu tanpa Tafsir

Pandangan itu masih tertuju pada hamparan samudera. Ia hanya diam tak bergeming saat deburan ombak kecil merendam telapak kakinya. Matanya mulai terpejam perlahan. Telinganya bersiap menyimak hembusan angin yang membisik. Tangannya terentang memeluk udara. Nafasnya naik turun beraturan, bernada dengan ritme yang syahdu. Bibirnya terkatup rapat membungkam terkunci, bila saja anak kuncinya telah hanyut di bawa ombak. “Hai...” kesunyian bebisik angin berubah hangat dengan sekelebat suara yang menyapa. Ia masih bungkam. “Apa kabar?” tanya suara itu mengusik ketenangannya. “Selalu lebih baik dari yang sebelumnya.” Jawabnya tipis. Ia masih menikmati setiap hempasan angin di wajahnya. “Dan kau?” Hening beberapa saat. Hanya deburan ombak dan tiupan angin yang menguasai. “Aku jauh lebih baik setelah melewati masa sulit.” Akhirnya suara itu kembali. Mestinya jawaban itu menjadi jawaban terbaik yang menerbitkan bulan sabit di bibirnya. Namun sebaliknya, hatinya perih pilu. Ia tahu...

Paris

Senja telah turun memeluk kota Paris, saat aku langkahkan kakiku ke arah sungai Seine. Seine hanya tinggal beberapa meter dari hadapanku. Semakin dekat aku menemukan siluet tubuhnya yang tinggi membelakangiku. Ia benamkan kedua tangannya dalam saku jaket, pandangannya terpaku melucuti keindahan sungai itu. Aku telah berdiri di belakangnya dalam hitungan detik aku menepuk bahunya dengan setengah menjijitkan kakiku. Aidan tampak terperanjat. Ia segera memutar tubuhnya. “Saila, kau membuatku terkejut.” Ia tampak gemas padaku. “Maaf sedikit terlambat.” Ujarku tanpa rasa bersalah karena telah membuatnya menunggu lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Tiga jam yang lalu, ia menelpon memintaku menemuinya di tempat ini, setelah tiga hari ini kami menginap di hotel. Ia harus bergabung dengan timnya untuk pertandingan kemarin. Sedangkan, aku harus menginap di hotel berbeda dan tidak sedikitpun kami memiliki kesempatan untuk jalan-jalan hanya sekedar menghirup keromantisan kota ini ...

[Barcelona II] Beach of Love

“Seluna, You’ve gone.” Pandangan gadis kecil itu memaku pada seekor kelinci putih yang terkapar di pinggir jalan. Bulunya tak lagi seputih kapas, noda merah kini lebih mendominasi tubuhnya oleh darah yang terus mengalir dari lehernya yang terluka. Beberapa menit yang lalu seekor kucing abu-abu mencengkram lehernya dan membawanya lari, hanya beberapa detik setelah gadis kecil itu meninggalkannya masuk rumah untuk mengambilkan seikat sayuran untuknya. Jerit nyaring kelinci itu cukup menyadarkan pemiliknya dan mengisyaratkan bahwa dirinya dalam bahaya dari seekor kucing yang sedari tadi mengendap-endap mencari waktu yang tepat untuk menerkamnya. Gadis itu segera berlari keluar rumah, dilihatnya kucing itu membawa lari tubuh kecil kelinci itu di mulutnya, persis seperti kucing itu mencengkram tikus-tikus menjijikan dengan taringnya. Gadis itu berlari mengejarnya, kerikil-kerikil berhamburan ke arah kucing itu dari tangan-tangannya yang penuh emosi. Kucing itu melepaskan dan mencampa...

Barcelona

14 Oktober Setelah semua barang-barang yang ku perlukan terkemas rapi dalam koperku. Aku kembali memeriksa kelengkapan dokumen perjalananku. Passport, visa dan semuanya telah tersimpan rapih di handbag . Ku pandangi seisi kamarku, melucuti setiap barang yang berada disana sekiranya ada barang yang bisa tertinggal. Sebuah MP4 hitam masih tergeletak di atas meja belajarku. Aku segera meraihnya dan ku masukkan ke dalam tas tangan putihku. “Saila... kau telah siap?” ku dengar suaranya memanggil dari luar kamarku. Aku mengangguk. “Ya.” Sahutku saat ku sadari ia tak bisa melihat anggukanku. Ia membuka pintu kamarku dan menunjukkan dua tiket di tangannya. “Pesawat kita berangkat pukul empat nanti. Biar aku yang menyimpan ini.” ujarnya padaku. Aku mengangguk setuju. Ia memasukkan tiket-tiket itu ke dalam dailypack nya. Dengan satu gerakan ia telah menurunkan koperku dari tempat tidurku, membawanya keluar dan mengemas dengan rapi bersama barang-barang bawaan lainnya di bagasi taksi ...

Kekosongan

Cerpen Hujan #2 (Sekuel: Biarkan Luka ini Hanyut Dalam Deras Hujan) Awan hitam menggantung di langit kotaku cukup lama, sampai akhirnya menurunkan jarum-jarum beningnya menderas. Aku berlari dan segera memburu emper toko sebagai tempatku berteduh. Aku segera menghapus tetesan air di hardcover ungu yang melapisi ratusan lembar kertas hvs. Jaket hitam yang biasa ku persiapkan sebelum hujan tak bersamaku, pagi tadi kakak perempuanku meminjamnya dan aku tak menduga jika hujan akan datang hari ini. Ku rapatkan tubuhku ke dinding toko menghindar dari tetesan air yang memburu tubuhku yang mulai basah, meski tidak kuyup. Ku peluk rapat tiga bundle kertas yang berjilid ungu itu dalam dadaku, berharap tetesan hujan tak sampai menyentuhnya. Hujan turun begitu derasnya menurunkan ribuan kubik airnya, seolah ia ingin menumpahkan semua pasukannya yang bersisa di langit. Hei, benarkah kau sedang marah padaku? " Lebet heula atuh neng? " panggil ibu pemilik toko itu. Seketika aku menoleh...

Kedewasaan

Pagi memendar dingin yang menusuk. Ku rapatkan jaket merah hitamku, duduk di antara puluhan santri yang telah berkumpul menghadap seorang guru besar yang terduduk di depan kelas. Ku lirik jam logam yang melingkar di lengan kiriku menunjukkan pukul 5. 40. Waktu yang paling nikmat untuk tidur kembali selepas shalat shubuh dengan udara yang menghembus, merayu. "Ada yang mau ditanyakan?" ucap sang guruku tegas. Aku masih tertunduk memainkan pulpen dengan ujung jariku. Berpikir, mengaduk-aduk isi otakku untuk mencari perkara yang bisa aku ungkap. "Pak ustadz, apa yang membuat orang bisa menjadi berpikir dewasa dan bijak?" tanya seorang ikhwan di ujung sudut kiri. Pertanyaan menyentakku. Aku mengangkat kepalaku. Sekilas ku lirik ikhwan itu lalu ku alihkan pandanganku pada guruku.

Dandelion

Mentari semakin merunduk di ufuk barat, sisa cahayanya masih menelusup di Jendela Masjid. Shalat Ashar berjamaah yang diimami Ust. Dadan hampir berlalu satu jam yang lalu. Meski demikian seperti biasanya masjid ini selalu ramai oleh jamaah. Beberapa orang sedang shalat ashar, mungkin mereka masih memiliki urusan saat adzan berkumandang, beberapa orang sedang tilawah, dan tak jarang pula yang sedang melafalkan al ma’tsurat sore. Aku baru saja menyelesaikan do’a rabithah dalam al ma’tsuratku, ketika Hilya yang duduk di sampingku dengan penuh semangat tengah menyelami muraja’ah hafalan juz 30-nya di surat An Nazi’at. Aku memperhatikannya dengan seksama. Ia meniti tiap makharijul huruf dan tajwidnya dengan hati-hati. Wajahnya terlihat tenang dan bening seperti permata. Tak heran jika orangtua kami menyematkan nama itu baginya. “Fa’amma man khafa maa khooma rabbihi wannahannafsa ‘anil hawaa...” lirihnya. “Wa’ama man khafa maa khooma rabbihi wa nahannafsa ‘anil hawaa...” aku mengoreks...

Software Shalehah

"Aku ingin shalehah." Ujarnya.Aku menatapnya sejenak. Seraut wajah serius ditunjukkannya di hadapanku. Hm.. seserius apapun, ekpresi kekanak-kanakannya tak pernah luput dari wajahnya yang imut. "Langsung aja..." jawabku singkat seraya kembali kualihkan pandanganku pada monitor yang telah penuh dengan ribuan kata dari tugas akhirku. Jariku masih meloncat-loncat dari tombol satu ke tombol lainnya diatas keypads yang terbungkus plastik. "Caranya?" tanyanya polos. "Please... tolong dong, installkan software shalehah padaku." lanjutnya merajukku. Sudah ku duga. seberapa lama kau mampu bersikap serius? Meski demikian, setiap keinginan yang dia ajukan tak pernah sedikitpun ku ragukan keseriusannya walau setiap kali dia mengutarakannya dengan kekonyolannya dan tingkah kekanak-kanakannya. "Hm..." aku berpikir sejenak. Menghentikan aktivitasku mengetik tugas akhirku yang harus segera ku selesaikan. Kemudian aku kembali mengetik. Dia turut t...

Mengurai Kabut

Ia masih terduduk diatas tempat tidurnya, matanya memerah, gelisah menatap setiap rintikan hujan yang lesu dibalik jendelanya. Angin berhembus membekukan aliran darahnya. Wajahnya memucat seperti bulan kesiangan dan tubuhnya serapuh daun yang disapu angin. Bibirnya bergetar meluncurkan ribuan do'a ke langit. Sesekali ia sesegukan menahan berat di dadanya. *** "Beri aku waktu sepuluh menit saja." Lelaki itu memohon padanya. Ia masih diam di tempat duduknya, tanpa menoleh sedikit pun pada lelaki yang duduk di sebelahnya. Jarinya memainkan ujung jilbabnya, sedang tatapannya menatap papan tulis. kosong. "Aku sa... sayang k-kamu, Na. Sangat." Ujar lelaki itu terbata.  Ia masih tenang seperti biasanya sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya. "Apapun reaksimu, setidaknya aku telah mengatakannya padamu dan kau mendengarkannya, kau tahu sekarang." desis pemuda itu. sebelum wanita pujaannya pergi keluar kelas yang sedari tadi bising oleh sis...

Merpati

Tatapannya kosong pada sebuah sangkar kosong yang tergantung pada pohon di belakang rumahnya. Bibirnya diam membisu. Kaki kananya ditopangkan ke kaki kiri, begitu pun dengan tangannya. Dia telah seperti itu sejak satu jam yang lalu. Tidak dengan otaknya, otaknya berpikir keras dan lamunannya berlari kesana kemari. Aku duduk disampingnya, menjejerinya tanpa kata. Ia tetap tak bergeming dengan kedatanganku, meski hanya sekedar ekor matanya yang tergerak. Tatapannya masih terpaku pada sangkar coklat itu. “Kau tahu kenapa sepasang merpatiku tak lagi disana?” akhirnya kata-kata itu datang memecah kesunyian setelah sepuluh menit bergulir sejak aku duduk menyertainya. Aku menggeleng, “Tidak.” Ujarku kaku. “Si betina terbang entah kemana... sedangkan si jantan mati disangkar itu.”  jelasnya datar tanpa ekspresi. “Bukankah sepasang merpati itu...” “Benar, itu hadiahnya.” Dia memotong kalimatku sebelum aku benar-benar menyelesaikannya. Aku mengangguk-angguk.

Bagilah Bebanmu Denganku

Mataku masih enggan berpaling, lewat jendela kamar ku pandangi mentari yang mulai turun di ufuk barat. Lembayung senja mula merekah mengiringi kepergian mentari yang tampak lelah setelah bersinar seharian. Tapi tidak denganku, aku masih belum lelah, aku masih kuat untuk menampung bebanmu. Aku terlalu segar untuk pergi istirahat tanpa mendengar keluhmu dulu, tanpa memberimu bahu untuk membagi beban denganku. Bukankah kau pilih aku karena kau percaya padaku untuk mengatasi setiap permasalahan yang kita hadapi bersama-sama? Lantas kenapa kau masih diam membisu di sudut ruang kerjamu dengan kiloan beban yang memenuhi hati dan pikiranmu. Apakah kau tak percaya padaku? atau apakah kau tak mencintaiku lagi? Apa kau lelah mencintaiku? Matahari benar-benar telah tenggelam, seperti engkau yang tenggelam dalam duka dan bebanmu yang berkepanjangan. Adzan maghrib berkumandang bersahut-sahutan mulai dari Masjid Raya hingga mushola kecil di sudut komplek perumahan. Kau keluar dari ruang kerjamu de...

Terlanjur Senja

23 November 2011 Mentari bersinar cukup kuat hari ini, tak ada tanda-tanda hujan akan turun segera. Langkah cepatku membelah jalanan Rancabolang menuju tempat pemberhentian mobil angkutan yang setia mengantarkanku ke kampus. Sebuah sirene berbunyi seperti suara sekumpulan nyamuk yang memekakan telingaku. Kulihat sebuah ambulance melaju cepat diiringi beberapa mobil mewah dibelakangnya. 13 Mei 2003 Bunyi telpon memecah kesunyian rumahku yang telah sepi beberapa hari yang lalu, ibu telah dijemput kakak lelakiku beberapa hari yang lalu untuk merawat adiknya yang sakit keras, sedangkan ayahku lebih suka tinggal di ruko yang terletak di depan jalan raya dibanding tinggal di rumah bersamaku, disamping kakak-kakakku yang telah lama pergi merantau ke kota sejak lulus sekolah, melanjutkan pendidikan dan bekerja disana.

KENANGAN TERAKHIR BERSAMAMU…

Perlahan Alifa membuka album foto saat liburan bersama dengan kakak-kakaknya. Di halaman pertama ditemuinya gambar seorang gadis kecil tersenyum ceria melenggokan kepalanya kearah kiri di belakangnya terhampar luas perkebunan teh yang begitu hijau menyejukkan mata siapapun yang melihatnya. Halaman berikutnya seorang pemuda dan dua orang pemudi berbaris di depan loket bergaya konyol. Sesekali dia tersenyum melihat gambar-gambar yang diam membisu itu, namun air matanya mengiringi mengubah senyuman itu menjadi senyum getir yang menyakitkan. Pikiran Alifa berlari pada dua belas tahun yang lalu. Gadis kecil itu adalah dirinya saat berusia lima tahun dan pemuda pemudi itu adalah kakak-kakaknya. “Hari ini kita akan wisata ke Sari Ater…!!!” teriak Faris girang diikuti oleh suara riuh senang tiga adik perempuannya yang lain, Sabrin, Nura dan adik kecilnya Alifa. Setelah menyiapkan segala sesuatunya mereka berempat pergi ke Sari Ater yang berjarak kurang lebih empat puluh lima kilometer ...

Sabana

Bismillah Sinar jingga kemerahan dari balik bukit itu beringsut naik semakin tinggi semakin memucat, sinarnya memancarkan kehangatan kepada makhluk-makhlukNya, pada pohon yang mulai menunaskan daun-daun baru, pada bunga yang mulai masih kuncup dan mulai merekah, kepada kupu-kupu yang baru bangun dari tidur panjangnya dalam kepompong. Mencairkan sisa-sisa salju di atas rumput dan pepohonan. Burung-burungpun berkicau dengan riangnya. "Selamat datang musim semi." desisku. Aku berdiri pada salah satu bukit diantara bukit-bukit lainnya yang berdiri anggun bagai gundukan-gundukan makam tanpa nisan. Sejauh mata memandang hanya terdapat hamparan rumput hijau bagai permadani yang cantik. Di barat sana kulihat gunung-gunung bediri angkuh dengan salju yang menyelimuti puncaknya. Kuda-kuda dan para biri-biri merumput sesuka hati mereka.

Cerita dari Negeri Dongeng

Di Negeri Antah Berantah, rakyatnya  yang berjenis kelamin berbeda hidup terpisah oleh aliran sungai dimana daratan putra tinggal di sebelah kiri aliran sungai sedangkan daratan putri tinggal di daratan sebelah kanan. Keduanya tak bisa bersama, apabila ingin bersama maka mereka harus mempunyai kapal berSNI atau berlabel halal “MUI” (lho????). Sudah merupakan suatu ketentuan bahwa rakyat negeri itu baik putra maupun putri tidak boleh mendekati aliran sungai itu. Sebagian orang sangat patuh, sebagian lagi meski mereka hati-hati tapi tidak terlalu mentakuti larangan itu. Sungai itu bukanlah sungai berpenyakit. Airnya sejuk, melegakan jika diminum, dapat menyebabkan ketagihan, dan terdapat taman bunga cantik disepanjang tepian sungai, tapi beberapa mil dari tempat itu terdapat aliran yang sangat deras, hingga siapapun yang melewatinya tanpa kapal yang kuat akan binasa, tetapi mereka yang melewatinya dengan kapal akan nyaman dan selamat diperjalanan. Itulah alasan kenap...

Gadis Kecil di Pundak Sang Ayah

Suatu ketika aku membaca sebuah artikel tentang seorang ayah yang membawa putrinya pada bahunya tak lebih seperti membawa karung beras. Saat itu aku berpikir bahwa hal semacam itu hanya ada pada novel-novel klasik Indonesia. Akan tetapi asumsiku berubah saat, aku melihat hal mengejutkan dengan mata kepalaku sendiri. dan kunyatakan itu bukan Fiksi!!! Siang itu mentari bersinar cukup terik. Aku tengah menikmati biografi orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan kurang atau bahkan bisa dikatakan tidak sukses, tapi mereka mampu menunjukan kesuksesan pada karirnya, yang tersaji dalam sebuah buku motivasi karya pak Isa Alamsyah di sebuah angkot yang melaju menuju kampusku tercinta. Emosiku tengah larut dengan bahan bacaan ketika tiba-tiba tubuhku terhempas akibat pak supir menginjak rem mendadak dan seorang penumpang lain memaki sikap ceroboh supir angkot yang menerobos lampu merah hampir menabrak pengendara motor.